Senin, 07 Oktober 2013

Martha Christina Tiahahu “ Sang Pejuang Wanita Berikat Kepala”

Kevin Reza / SI3 / A
            Wanita pada masa prakemerdekaan kerap dipersamakan dengan dapur dan mengurus anak. Tapi kita tahu bahwa tidak semuanya wanita hanya seperti itu. Di zaman modern sekarang telah banyak wanita yang bekerja untuk suaminya, selagi dia juga sebagai ibu rumah tangga. Akan tetapi pada masa prakemerdekaan memang adanya seperti itu. Banyak wanita yang hanya melakukan tugas seperti itu sebelum munculnya Emansipasi Wanita.
            Sementara Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pahlawan emansipasi wanita, pahlawan nasional yang lain adalah pejuang kemerdekaan, seperti Cut Nyak Dien dari Aceh. Di Maluku, seorang wanita muda pemberani mengangkat senjata bersama dengan rekan-rekan pria melawan penjajah dari zaman Belanda . Dia adalah Martha Christina Tiahahu.
            Namun, Martha Christina Tiahahu, perempuan pejuang Maluku, membuktikan bahwa tidak selamanya kaum wanita hanya bisa bekerja di dapur dan mengurus anak.
Ia adalah sedikit dari perempuan Indonesia yang dalam hidupnya berperan sejajar dengan kaum pria, bahkan dalam urusan membela bangsa dan negara.
Martha Christina Tiahahu, lahir pada 1800, di suatu desa bernama Abubu di Pulau Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah. Ia lahir dari keluarga Tiahahu dari kelompok Soa Uluputi. Soa dalam bahasa Maluku berarti 'kelompok yang membagi masyarakat berdasarkan marganya sebagai identitas asal-usul keluarga'.
Martha adalah wanita pemberani yang mengangkat tombak untuk melawan Belanda. Seperti yang dituturkan oleh ahli warisnya, Merry Lekahena, berdasarkan kisah turun-temurun yang diceritakan oleh orangtuanya, Martha dibesarkan oleh ayahnya yang merupakan seorang pemimpin perang karena ibunya meninggal saat ia masih belia.
Martha kecil terkenal berkemauan keras dan pemberani. Ia selalu mengikuti ke mana pun ayahnya pergi, termasuk menghadiri rapat perencanaan perang, sehingga dirinya terbiasa turut mengatur pertempuran dan membuat kubu-kubu pertahanan.
Martha Christina tercatat sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang unik yaitu seorang puteri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam perang Pattimura tahun 1817.
Di kalangan para pejuang dan masyarakat sampai di kalangan musuh, ia dikenal sebagai gadis pemberani dan konsekwen terhadap cita-cita perjuangannya. "Kemampuan, sikap keras kepala, dan tekad yang kuat yang membuatnya sejajar dengan laki-laki. Ia bahkan tidak mau meminta pengampunan Belanda terhadap ayahnya meskipun ia sedih sekali," kata Lekahena.
Sejak awal perjuangan, ia selalu ikut mengambil bagian dan pantang mundur. Dengan rambutnya yang panjang terurai ke belakang serta berikat kepala sehelai kain berang (merah) ia tetap mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran baik di Pulau Nusalaut maupun di Pulau Saparua. Siang dan malam ia selalu hadir dan ikut dalam pembuatan kubu-kubu pertahanan. Ia bukan saja mengangkat senjata, tetapi juga memberi semangat kepada kaum wanita di negeri-negeri agar ikut membantu kaum pria di setiap medan pertempuran sehingga Belanda kewalahan menghadapi kaum wanita yang ikut berjuang.
Martha Chistina dan ayahnya, Paulus Tiahahu, bersama-sama dengan Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura berhasil menggempur kependudukan tentara kolonial yang bercokol di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah.
"Mereka berhasil membumihanguskan Benteng Duurstede," ujar Lekahena menjelaskan.
Pada waktu itu sebagian pasukan rakyat bersama para Raja dan Patih bergerak ke Saparua untuk membantu perjuangan Kapitan Pattimura sehingga tindakan Belanda yang akan mengambil alih Benteng Beverwijk luput dari perhatian.
Guru Soselissa yang memihak Belanda melakukan kontak dengan musuh mengatas-namakan rakyat menyatakan menyerah kepada Belanda. Tanggal 10 Oktober 1817 Benteng Beverwijk jatuh ke tangan Belanda tanpa perlawanan.
Sementara di Saparua pertempuran demi pertempuran terus berkobar. Karena semakin berkurangnya persediaan peluru dan mesiu pasukan rakyat mundur ke pegunungan Ulath-Ouw. Diantara pasukan itu terdapat pula Martha Christina Tiahahu beserta para Raja dan Patih dari Nusalaut.
 Tanggal 11 Oktober 1817 pasukan Belanda dibawah pimpinan Richemont bergerak ke Ulath, namun berhasil dipukul mundur oleh pasukan rakyat. Dengan kekuatan 100 orang prajurit, Meyer beserta Richemont kembali ke Ulath. Pertempuran berkobar kembali, korban berjatuhan di kedua belah pihak.
Dalam pertempuran ini Richemont tertembak mati. Meyer dan pasukannya bertahan di tanjakan Negeri Ouw. Dari segala penjuru pasukan rakyat mengepung, sorak sorai pasukan bercakalele, teriakan yang menggigilkan memecah udara dan membuat bulu roma berdiri.
Di tengah keganasan pertempuran itu muncul seorang gadis remaja bercakalele menantang peluru musuh. Dia adalah putri Nusahalawano, Martha Christina Tiahahu, srikandi berambut panjang terurai ke belakang dengan sehelai kain berang (kain merah) terikat di kepala.
Dengan mendampingi sang Ayah dan memberikan kobaran semangat kepada pasukan Nusalaut untuk menghancurkan musuh, jujaro itu telah memberi semangat kepada kaum perempuan dari Ulath dan Ouw untuk turut mendampingi kaum laki-laki di medan pertempuran.
Baru di medan ini Belanda berhadapan dengan kaum perempuan fanatik yang turut bertempur. Pertempuran semakin sengit ketika sebuah peluru pasukan rakyat mengenai leher Meyer, Vermeulen Kringer mengambil alih komando setelah Meyer diangkat ke atas kapal Eversten.
Tanggal 12 Oktober 1817 Vermeulen Kringer memerintahkan serangan umum terhadap pasukan rakyat, ketika pasukan rakyat membalas serangan yang begitu hebat ini dengan lemparan batu, para Opsir Belanda menyadari bahwa persediaan peluru pasukan rakyat telah habis.
Vermeulen Kringer memberi komando untuk keluar dari kubu-kubu dan kembali melancarkan serangan dengan sangkur terhunus. Pasukan rakyat mundur dan bertahan di hutan, seluruh negeri Ulath dan Ouw diratakan dengan tanah, semua yang ada dibakar dan dirampok habis-habisan.
Martha Christina dan sang Ayah serta beberapa tokoh pejuang lainnya tertangkap dan dibawa ke dalam kapal Eversten. Di dalam kapal ini para tawanan dari Jasirah Tenggara bertemu dengan Kapitan Pattimura dan tawanan lainnya.
Mereka diinterogasi oleh Buyskes dan dijatuhi hukuman. Karena masih sangat muda, Buyskes membebaskan Martha Christina Tiahahu dari hukuman, namun sang Ayah, Kapitan Paulus Tiahahu tetap dijatuhi hukuman mati.
Mendengar keputusan tersebut, Martha Christina Tiahahu memandang sekitar pasukan Belanda dengan tatapan sayu namun kuat yang menandakan keharuan mendalam terhadap sang Ayah.
Tiba-tiba Martha Christina Tiahahu merebahkan diri di depan Buyskes memohonkan ampun bagi sang ayah yang sudah tua, namun semua itu sia-sia.
Tanggal 16 Oktober 1817 Martha Christina Tiahahu beserta sang Ayah dibawa ke Nusalaut dan ditahan di benteng Beverwijk sambil menunggu pelaksanaan eksekusi mati bagi ayahnya.
Martha Christina Tiahahu mendampingi sang Ayah pada waktu memasuki tempat eksekusi, kemudian Martha Christina Tiahahu dibawa kembali ke dalam benteng Beverwijk dan tinggal bersama guru Soselissa.
Sepeninggal ayahnya Martha Christina Tiahahu masuk ke dalam hutan dan berkeliaran seperti orang kehilangan akal. Hal ini membuat kesehatannya terganggu.
Dalam suatu Operasi Pembersihan pada bulan Desember 1817 Martha Christina Tiahahu beserta 39 orang lainnya tertangkap dan dibawa dengan kapal Eversten ke Pulau Jawa untuk dipekerjakan secara paksa di perkebunan kopi.
Selama di atas kapal ini kondisi kesehatan Martha Christina Tiahahu semakin memburuk, ia menolak makan dan pengobatan.
Akhirnya pada tanggal 2 Januari 1818, selepas Tanjung Alang, Martha Christina Tiahahu menghembuskan nafas yang terakhir. Jenazah Martha Christina Tiahahu disemayamkan dengan penghormatan militer ke Laut Banda.
Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969, tanggal 20 Mei 1969, Martha Christina Tiahahu secara resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional. Dan tanggal 2 Januari menjadi Hari Martha Christina.
Pada hari itu, ribuan kelopak bunga dilemparkan ke Laut Banda dalam sebuah upacara resmi yang diselenggarakan setiap tahun untuk merayakan keberanian dalam perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia.
Monumennya pun dibangun menghadap ke laut Banda di desa kelahirannya yang diresmikan oleh Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu pada 2 Januari 2008 dalam peringatan Hari Martha Christina yang ke-190 tahun.
Sedangkan di Ambon, monumen Martha Christina tegar berdiri dengan sebatang tombak di tangan Bukit Karang Panjang menghadap ke Teluk Ambon, seakan-akan menyiratkan tekadnya menjaga keutuhan Maluku sebagai daerah kaya berbagai potensi sumber daya alam sebagai bagian kekuatan masa depan untuk kesejahteraan masyarakat.
Konon waktu pendirian patung ini sangat susah diletakkan karena kurang keseimbangan. Telah dicoba beberapa kali ternyata tidak dapat berdiri dengan baik. Patung baru dapat berdiri dengan posisi seimbang ketika menghadap Laut Banda, tempat dimana Jenasah Martha Christina Tiahahu dibuang ke laut.
Patung Martha Christina Tiahahu itu terletak di Karang Panjang, daerah bukit yang terlihat jelas dari Kota Ambon. Menuju Karang Panjang dari Kota Ambon melewati jalan menanjak dan beberapa tikungan tajam baru tiba di lokasi Monumen Martha Christina Tiahahu yang bersebelahan dengan Kantor DPRD Maluku.
Tertanam di dasar monumen untuk pejuang kemerdekaan wanita berbunyi : " Martha C. Tijahahu , mutiara Nusa Laut ( Pulau ) , pahlawan nasional RI , yang berjuang untuk mengusir penjajah Belanda dari Maluku , jatuh pada Januari 2 , 1818. "
Dari Patung Martha Christina Tiahahu dapat dilihat secara langsung pemandangan Kota Ambon dan lebih indah bila dinikmati pada malam hari. Lokasi ini biasa dijadikan tempat alternatif untuk menikmati suasana santai, terutama para muda-mudi yang ingin menikmati pemandangan Kota Ambon.
Meskipun Christina ditampilkan membawa tombak di kedua monumen, dalam pertempuran melawan Belanda, legenda mengatakan bahwa dia benar-benar melemparkan batu ke tentara Belanda ketika pasukannya kehabisan amunisi .
Karena keberanian besarnya dalam melawan senjata api Belanda hanya dengan batu, masyarakat Maluku menyebutnya seorang wanita kabaressi(berani). Namanya juga digunakan sebagai jalan di Karangpanjang sementara kapal perang Indonesia telah dibaptis dengan nama KRI Martha Christina Tiahahu.
Sejarah lengkap dari perjuangan Christina telah ditulis oleh almarhum Yop Lasamahu dalam bukunya , Bunga Karang Bahasa Dari Nusalaut (The mekar karang dari Nusalaut). Penulis adalah mantan ketua Persatuan Wartawan Indonesia Maluku.
Sekelompok perempuan Maluku di Jakarta juga telah mendirikan Yayasan Martha Christina Tiahahu, sebuah yayasan sosial bagi masyarakat Maluku dipimpin oleh Djaelani Mietje Saimima.
Sementara itu, sejumlah aktivis perempuan dan jurnalis di Ambon menerbitkan majalah Martha Christina, yang terinspirasi oleh pejuang kemerdekaan Maluku muda. Publikasi ini juga melibatkan beberapa pejabat seperti Kepala Kantor Informasi lokal, dan Fenno Tahalele, Kepala Kantor Urusan Sosial.
"Nama majalah ini semata-mata dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat perempuan Maluku untuk semangat juang Martha Christina Tiahahu, dan ini memang meliputi urusan perempuan dalam masyarakat , " ujar Lies.
Aktivis Rosa Pentury perempuan Maluku mengatakan kepada The Jakarta Post bahwa semangat perjuangan Christina harus diwarisi oleh setiap generasi perempuan dalam masa kini, terlepas dari kondisi yang berbeda yang berlaku saat ini.
" Di masa lalu, Christina memimpin pemberontakan bersenjata terhadap penjajah. Hari ini, perempuan Maluku harus melawan ketidakadilan, kemiskinan dan kesenjangan sosial lainnya. Mereka dalam organisasi birokrasi , legislatif dan sosial juga harus meniru semangat besar Christina untuk perjuangan, " tegas Rosa, yang mengepalai Yayasan Pelangi.

Jasa seorang wanita seperti emang pantas disebut sebagai pahlawan nasional. Karena tekad perjuangannya yang kuat dan tegar tertanam di dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Soedarmanta, J.B., (2007). Jejak-jejak pahlawan: perekat kesatuan bangsa Indonesia, Grasindo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar