Senin, 14 Oktober 2013

KERAJAAN MALAYAPURA

Guswita Putri/PIS

            Pada abad XI nama kerajaan malayu muncul 1991 dengan nama Malayapura dengan nama rajanya Suryanaraya yang bergelar Sri Maharaja. Nama Malayapura diketahui dari prasasti yang ditemukan di Ceyon ( Srilanka ), antara lain menyebutkan pembebasan Ceylon dari penjajahan Cola. Untuk selanjutnya kerajaan Malayu yang muncul pada abad XI dan seterusnya disebut Malayapura/ Malayupura.                    
            Kerajaan Malayu tua pada sekitar 617 diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya atau disebut pula kerajaan Suwarnabhumi sehingga pusat kerajaannya tergusur kearah pedalaman dan ibu kotanya yang lama di duduki oleh Sriwijaya. Dalam abad XI terjadi perubahan posisi antara Sriwijaya dengan Malayu. Sejarah dinasti Sung masih mencatat bahwa raja Suwarnabhumi pada tahun 1028 bernama Se-Li-Tich-Hwa merupakan lafal dari nama Sanggrama Wijaya Tungga Warman.
            Sementara itu dalam persaingan dengan Cola, pihak Cola merasa dirugikan. Lalu pada tahun 1015 armada Cola menyerang Suwarnabhumi. Pada tahun 1025 Suwarnabhumi di serang lagi oleh Cola, dan peristiwa ini dicatat dalam prasasti Tanjore tahun 1031. Sejak tahun 1025 aktivitas Suwarnabhumi ada dalam pengawasan pihak Cola dan ketika terjadi keresahan pada tahun 1067, raja Wirarajendra menyerbu Suwarnabhumi. Kemudian pada tahun 1068 Wirarajendra menempatkan anaknya yang bernama Purnama Rajendra Kulotungga sebagai raja Suwarnabhumi yang berpusat di Jambi.
            Adapun raja Suwarnabhumi yang kalah dalam serangan tahun 1067, pindah kepedalaman dan mendirikan kerajaan baru yang disebut Malayapura. Lokasi Malayapura diduga tidak jauh dari Dharmasraya yang nanti akan menjadi pusat kegiatan agama Budha, yang antara lain ditandai dengan penempatan arca Amoghapasa Lokeswara kiriman raja Kertanegara dari Singhasari pada tahun 1286 kepada raja Malayu.
            Dari kronik Cina juga diberitakan bahwa pada tahun 1079 Raja yang memerintah di Suwarnabhumi bernama Rajendra Kulotungga. Nama Kulotungga tercatat dalam prasasti Kanton pada tahun 1079 dengan sebutan Ti-Hwa-Ka-Lo ( lafal Cina dari dewa Kala ), nama Ti Hwa Ka Lo tercatat sebagai donator pada pembangunan sebuah kuli Budha aliran Tao yang bernama kuil Tienching mengenai prasasti Sriwijaya dari Kanton tahun 1079.
            Suwarnabhumi ( Sriwijaya ) telah kalah pada tahun 1067 dan menyingkir dari pusat kekuasaan yang ada di Jambi ke daerah pedalaman. Sedikitnya hingga tahun 1079 saat Raja Dewakala Kulotungga menjadi donator pembangunan kuil di Kanton, maka Suwarnabhumi dikuasai oleh Dinasti Cola dari India Selatan.
            Terjadinya pendudukan terhadap kerajaan Suwarnabhumi sejak 1067-1079 telah menjadikan kerajaan Suwarnabhumi punah. Pewaris tahta Suwarnabhumi menyingkir dan mendirikan kerjaan Malapura. Kekuasaan Raja Dinasti Cola di Suwarnabhumi tidak berlangsung lama, hanya 12 tahun. Raja Malayu bernama Suryanarayana berhasil mengusir Raja dengan gelar Sri Maharaja mengenai tokoh Suryanarayana. Menurut Pravikana ia pernah menjadi raja di Ceylon tahun 1055-1110. Setelah ia menjadi Raja Malayu, antara tahun 1079-1082 ia memindahkan pusat kekuasaannya dari Palembang ke Jambi sebagaimana dicatat dalam berita Cina. Raja Malayu juga mengirim utusan ke Cina pada tahun 1079 dan 1088 dan memita Privilese kepada Kaisar Cina sama seperti yang diberikan kaisar kepada utusan Tamil pada tahun 1077.
            Pada abad XII, nama Malayu nyaris tidak muncul kecuali catatan sejarah Cina yang menyebutkan bahwa pada tahun 1157 Raja Malayu Jambi mengirim barang-barang ke Cina. Berita ini juga tidak menyebutkan siapa nama Malayu Jambi tersebut.
            Pada abad ke XIII nama Malayu timbul lagi dalam berita Cina yang menyebutkan bahwa Malayu Jambi mengirim utusan ke Cina pada tahun 1281. Kemudin ada utusan lagi pada tahun 1293 karena ada permintaan dari Dinasti Mongo. Kemudian pada tahun1299 utusan Malayu Jambi datang ke Cina atas kemauan sendiri. Selain itu ada berita dari Portugis yang menerangkan bahwa Marcopolo dalam catatannya tahun 1292 menyebut Malayu sebagai pusat perdagangan rempah-rempah. Sumber prasasti juga menyebutkan bahwa Raja Kartanagara dari Singhasari mengirimkan arca Amoghapasa. Lokeswara kepada raja Bhumi Malayu yang bernama Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa pada tahun 1286.
            Uraian prasasti Padangreco ini memberikan data bahwa eksistensi Malayu cukup basar XIV ini singgasana kerajaan malayu Jambi masih diduduki oleh Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa . Tiba-tia tahun 1343 muncul nama Adityawarman dalam prasasti Manjusri berangka pada tahun 1343 dan ia mengaku bersaudara dengan Rajapatni raja Majapahit. Pada saat itu empat tahun kemudian tepatnya pada tahun 1343 nama Adityawarman muncul lagi dalam prasasti Amoghapasa yang menyatakan diri sebagai Raja Malayu. Kemudian Adityawarman memindahkan pusat kegiatannya dari sekitar aliran sungai Batanghari lebih ke utara yaitu ksekitar kota Batusanggkar, provinsi Sumbar.

Daftar Pustaka
Abdullah,Taufik  dan AB Lapian.Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 2.Jakarta:PT.Ichtiar Baru Van Hoeve
id.wikipedia.org/wiki/Malayapura
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar