Senin, 07 Oktober 2013

KERAJAAN KRITANG

M. Ridwan/SR B

Kerajaan Keritang adalah sebuah kerajaan di Riau, tepatnya di Kabupaten Indragiri Hilir sekarang ini. Nama Keritang berasal dari kata Akar Itang. Itang ialah sebangsa tumbuh-tumbuhan yang banyak terdapat di sepanjang Sungai Gangsal. Akar-akar dari tumbuh-tumbuhan tersebut di atas begitu banyak di tebing-tebing sungai sehingga menyulitkan bagi perjalananan. Dari kata-kata akar dan itang terbentuklah Karitang, yang lama-lama kelamaan kebiasaan orang Melayu suka mempermudah sesuatu ucapan kata tersebut menjadi Karitang dan akhirnya menjadi Keritang.
Dalam Negarakertagama, Keritang disebut sebagai daerah yang takluk kepada Majapahit bersama Kerajaan Kandis, selain beberapa kerajaan lain di Sumatera yang juga tunduk di bawah Majapahit. Menyebutkan Keritang bersama-sama dengan kerajaan lain yang mengandung pengertian bahwa Keritang bukan hanya sekedar kampung, tetapi sudah merupakan suatu kerajaan cukup besar dan berarti bagi Majapahit yang demikian besar kekuasaannya.
Mengenai masa hidup Kerajaan Keritang ini dapat diperkirakan semasa dengan Kerajaan Kuantan. Tempat Kerajaan Keritang ini berpusat di sekitar Desa Keritang sekarang ini, yaitu di tepi Sungai Gangsal di Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir. Kapan lenyapnya kerajaan ini tidaklah dapat dipastikan, tetapi beberapa petunjuk yang mengarah ke Kerajaan Keritang disebabkan kehilangan Raja pemangku tahta. Raja di tawan oleh Kerajaan Melaka. Raja Merlang yang akhirnya meninggal di dalam pengasingan. Ketika dalam penawanan, Raja Merlang dikawinkan dengan seorang puteri Sulatn Mansyur Syah mempunyai keturunan. Dari rahim isterinya lahir seorang putera mahkota Kerajaan Keritang. Narasinga, nama putera mahkota itu, kelak akan dijemput untuk diminta memerintah kembali Kerajaan Keritang, karena sudah lama kerajaan seperti tidak bertuan.
Ketika rakyat Indragiri tidak mempunyai raja, maka datuk Patih meminta kepada Narasingan, sang putera mahkota yang masih menetap di Melaka untuk pulang ke Keritang memerintah kerajaan yang tidak memiliki raja. Kerajaan Keritang di Bawah Kekuasaan Sriwijaya Hampir semua wilayah yang ada di Kepulauan Sumatera berada dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya. Dalam catatan perjalanan I-Tsing, sepeninggalannya dari Sriwijaya, Jambi , tempat ia pernah menetap selama dua bulan, telah menjadi wilayah kekuasaan Sriwijaya. Menurut Hall (1988), Petunjuk-petunjuk dari catatan-catatan orang Cina dan Batu Ligor yang ditemukan di Wat Sema-muang, diceritakan pada saat peringatan pendirian tempat suci Budha Mahayana oleh Raja Sriwijaya pada tahun yang sama dengan dengan 15 April 775. Disebutkan, perluasan Kerajaan Sriwijaya dan Budha Mahayana sampai ke Semenanjung Melayu.
Dari keterangan prasasti yang ditemukan di Telaga Batu, Sriwijaya memperluas wilayah kekuasaannya mulai daerah Malayu di sekitar Jambi sekarang sampai ke Pulau Bangka dan daerah Lampung Selatan serta berusa menaklukkan Pulau Jawa yang menjadi saingannya dalam bidang bidang pelayaran dan perdagangan dengan luar Nusantara.

Penaklukan Pulau Bangka diduga erat hubungannya dengan penguasaan perdagangan dan pelayaan internasional di selat Malaka. Selian letaknya yang strategis, Pulau Bangka pada masa Sriwijaya menurut, masih bersambung menjadi satu dengan Semenanjung Tanah Melayu termausk didalamnya Kepuluan Riau dan Lingga.


Sehingga dengan demikian, sangat kuat sekali untuk menghubungkan bahwa kerajaan Keritang juga berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Sebab daerah yang menjadi perbatasan Kerajaan Keritang, daerah Jambi dan Semenanjung Melayu berada dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya.


Pada saat Kerajaan Sriwijaya sebagai Kerajaan Maritim terbesar menguasai daerah-daearah sekitarnya, seperti, Bangka, Riau, Lingga, Jambi, Semenanjung Tanah Melayu dan Keritang, sepenuhnya menguasai lalu lintas perdagangan dan pelayaran dari kerajaan-kerajaan dari Barat ke Cina atau sebaliknya. Karena perahu-perahu asing semuanya terpaksa harus berlayar melalui Selat Melaka dan Selat Bangka yang dikuasai Sriwijaya.


Keuntungan dari penguasaan tersebut, maka Sriwijaya keuntungan pajak lalu lintas yang melimpah-limpah dari perahu yang lewat. Sementara dari daerah Sriwijaya sendiri, ekspor berbagai macam komoditi dalam negeri, penyu, gading gajah, kapur barus, damar, lada dan lainnya sangat banyak. Karena wilayahnya yang luas dan banyak memproduksi komoditi yang diinginkan para pedagang. Komoditi tersebut ditukarkan dengan berbagai macama alat-alat sejenis porselen, kain katun dan kain sutera.

Kerajaan Keritang di bawah kekuasan Sriwijaya, pada akhir abad ke-13, diperkirakan mulai lepas dari pengaruh kerajaan maritim itu. Pada pada abad tersebut, kekuasaan kerajaan Sriwijaya semakin pudarnya.Ini menjadi faktor keberuntungan bagi kerajaan-kerajaan kecil yang selama ini tunduk di bawah kekuasaan Sriwijaya. Kerajaan-kerajaan kecil, satu persatu mulai melepaskan diri dari pemerintahan Sriwijaya. Karena tidak mungkin lagi bagi Sriwijaya untuk bisa kembali menguasai dan memaksakan keinginannya, karena persoalan dalam negeri tidak dapat teratasi lagi dan semakin banyaknya serangan dari luar yang juga harus dihadapi.


Sehingga secara perlahan, nama Sriwijaya semakin hilang dari peredaran. bandar dagang yang semula ramai dikunjungi, beransur-angsur menjadi sepi dan ditinggalkan pedagang. Sebab sumber-sumber komoditi yang diperjual belikan semakin menipis dan kuantitasnya tidak memenuhi permintaan pedagang lagi.


Berakhirnya Kerajaan Sriwijaya ini tidak hanya disebabkan hanya disebabkan kondisi dalam negeri yang tak menentu, tetapi juga serang dari luar. Adanya serangan dari Kerajaan Cola dan Majapahit. Sementara semakin derasnya gelombang penyebaran Islam ke Nusantara disinyalir sebagai penyebab eksternal runtuhnya Kerajaan Maritim Sriwijaya.

Marcopolo dalam perjalanannya dari Cina pada tahun 1292 M tidak menyebut-nyebut nama Sriwijaya lagi. Hal itu menunjukkan Sriwijaya sudah terpecah menjadi beberapa Kerajaan kecil. Dan salah satu diantaranya adalah Kerajaan Keritang ini merupakan Kerajaan Hindu-Budha. Karena setelah melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Majapahit yang menganut agama Budha, selanjutnya Kerajaan Keritang menjadi sebuah kerajaaan yang berdiri sendiri. Kedaulatan itu tidak berlangsung lama, karena kerajaan itu ditaklukkan oula oleh Kerajaan Majapahit yang menganut agama Hindu.
Kerajaan Keritang di Bawah Kekuasaan Majapahit

Tidak dapat dipastikan awal berdirinya Kerajaan Keritang (Indragiri), karena tebatasnya sumber. Suatu sumber yang menyebutkan bahwa raja pertama Kerajaan Indragiri adalah Raja Kecik Mambang yang memerintah ± 1298-1337 (T. Arief, tt:39). Sumber itu tidak menyebutkan di mana letaknya pusat pemerintahan dari Kerajaan Indragiri. Sebaliknya Mpu Prapanca danal negara Kertagama tidak pula menyebut nama Indragiri, tetapi yang ditulis hanyalah Keritang. Karena Keritang itu terdapat di Inderagiri, maka diperkirakan nama kerajaan Indragiri yang disebut di atas adalah identik dengan Kerajaan Keritang (Inderagiri).

Dalam perjalanan sejarah Kerajaan Keritang dari tahun 1298-1331 masih tetap merdeka dan berdaulat. Berita dalam Negara Kertagama menyebutkan Majapahit sampai tahun 1331 M wilayah kekuasan baru daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Daerah-daerah di luar dari keduanya belum lagi masuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit (Muhammad Yamin, 1960). Selama berdaulat itu, tidak ditemukan sumber tertulis yang dapat mengungkapkan kembali sejarah kerajaan itu. Begitu juga di daerah Keritang sendiri tidak didapat cerita rakyat tentang Kerajaan Keritang.

Sebagai suatu kerajaan, Keritang memiliki beberapa orang raja yang memerintah selama lebih kurang 213 tahun (1298-1508). Raja-raja tersebut yaitu :
Ø Raja Kecik Mambang disebut juga dengan gelar Raja Merlang I (± 1298-1337)
Ø Raja Iskandar atau Nara Singa (± 1337-1400)
Ø Raja Merlang II (± 1400-1437) dan
Ø  Raja Nara Singa.
 Pada masa pemerintahan Raja Merlang II, Kerajaan Keritang (Inderagiri) menjadi daerah jajahan Melaka, sebagai hadiah perkawinan putri Majapahit dengan Sultan Mansyursah dan Melaka.
Dalam tahun 1275 raja Kertanegara dari Singosari mengirim suatu ekspedisi Pamalayu. Ekspedisi ini dimaksudkan untuk merebut daerah penghasil lada terbesar di kawasan ini. Singosari waktu itu sedang dalam konflik dengan kerajaan Mongol. Hubungan yang memburuk ini diikuti dengan kedatangan armada Mongol di bawah pimpinan Ike Mise dan Shih Pi untuk menyerang Kerajaan Singasari dan menghukum raja Jawa, Kertanegara yang telah menghina utusan Mongol bernama Mingki. Ming Ki dipotong telinga ketika menyampaikan pesan dari kerajaan Mongol.


Perseteruan antara Kerajaan Singasari dan Mongol dimanfaatkan oleh Kerajaan Melaka untuk menguasai Keritang. Sebab melihat potensi hasil bumi yang dimiliki Kerajaan Keritang akan membantu Melaka dalam meningkatkan intensitas perdagangannya. Jambi dan sekitarnya pada waktu itu penghasil lada terbesar di pantai Timur Sumatera, Keritang merupakan lumbung padi. Sedangkan Melaka baru muncul sebagai bandar perdagangan besar di Asia. Bandar yang dibangun itu menampung dan mengekspor kembali barang-barang dari Asia Tenggara dan Asia Timur ke Eropa melalui India dan Teluk Persia. Maka bila terjadi ikatan antara Melaka dengan Jambi dan Keritang yang juga menghasilkan lada, akan menjamin suplai bahan perdagangan.

Untuk dapat menguasai Keritang, maka Melaka harus membuat hubungan diplomatik yang baik dengan kerajaan Majapahit, kerajaan yang berkembang pesat setelah kekuasaan Singosari. Maksud tercapai setelah Raja Melaka yaitu Sultan Mansursyah kawin dengan seorang puteri Raja Majapahit. Sejak itulah Kerajaan Keritang oleh Majapahit diserahkan penguasaannya kepada kerajaan Melaka. Majapahit mau menyerahkan Kerajaan Keritang kepada Kerajaan Melaka di samping karena hubungan perkawinan tersebut, juga karena pada saat itu kebesaran Majapahit dalam keadaan menurun semenjak meninggalnya Patih Gajah Mada.

Untuk memperkuat ikatan kerajaan Melaka terhadap kerajaan Keritang, maka Sultan Mansyursyah mengawinkan salah seorang puterinya dengan Raja Keritang yang bernama Raja Merlang II. Setelah perkawinan itu, raja Merlang pun menetap di Melaka.


DAFTAR PUSTAKA
Junus, hasan. 2000. Kerajaan Indragiri. Pekanbaru: unri press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar