Kamis, 03 Oktober 2013

KERAJAAN HOLING

EGI SEPTIA WINDARI / PIS

Pada abad ke-7 berdiri suatu kerajaan yang bernama Holing. Penyebutan Nama Holing sebenarnya muncul ketika terjadi perubahan dengan mulai meluasnya kekuasaan Wangsa Sailendra. Sebelum perluasan ini, berita Cina dari Dinasti Sung Awal menyebut Jawa dengan sebutan She-p'o. Akan tetapi kemudian berita-berita Cina dari Dinasti T'an menyebut Jawa dengan sebutan Ho-ling sampai tahun 818. Namun penyebutan Jawa dengan She-p'o kembali muncul pada 820-856 M. Letak kerajaan kalingga hingga kini belum dapat di pastikan
Holing (Chopo) adalah nama lain dari kerajaan Kalingga ibukota kerajaan Kalingga bernama Chopo (nama China), menurut bukti-bukti China pada abad 5 M. Mengenai letak Kerajaan Kalingga Atau Holing ini secara pastinya belum dapat ditentukan. Ada Beberapa argumen mengenai letak kerajaan ini, ada yang menyebutkan bahwa negara ini terletak di Semenanjung Malaya, di Jawa Barat dan di Jawa Tengah. Tetapi letak yang paling mungkin ada didaerah antara Pekalongan dan Plawanagan di Jawa Tengah. Hal ini berdasarkan catatan perjalanan dari Cina.
Kerajaan Kalingga Atau Holing Adalah Kerajaan Yang Terpengaruh Oleh Ajaran Agama Budha. Sehingga Holing Menjadi Pusat Pendidikan Agama Budha. Nama Kerajaan Ho-ling sempat tercatat dalam kronik dinasti T'ang yang memerintah Cina pada 618-906 M. Menurut catatan kronik tersebut, penduduk Holing biasa makan tanpa menggunakan sendok atau cupit, melainkan dengan jari-jari tangannya saja, dan gemar minum semacam tuak yang mereka buat dari getah bunga pohon kelapa (aren).
Kerajaan ini mengalami masa kejayaan saat diperintah oleh Ratu Sima yaitu pada tahun 674 Masehi. Ratu sima merupakan raja yang terkenal di pemerintahan kerajaan Holing. Pada saat itu, semua rakyat hidup dengan tenteram dan makmur. Mereka tunduk dan patuh terhadap segala perintah Ratu Sima bahkan tidak ada seorang pun rakyat atau pejabat kerajaan yang berani melanggarnya.
Pada suatu hari, ada seorang raja yang sangat penasaran dengan kejujuran rakyat holing. Raja itu bernama Raja Tache. Ia berkeinginan untuk menguji kejujuran rakyat Holing. Untuk membuktikannya, Raja Tache mengirim utusan ke Holing. Utusan tersebut diperintahkan untuk meletakkan pundi-pundi emas secara diam-diam di tengah jalan dekat keramaian pasar. Tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh pundi-pundi emas tersebut hingga 3 tahun lamanya. Namun, pada suatu hari sang putera mahkota sedang berjalan-jalan melewati pasar tersebut. Ketika berjalan, kaki putera mahkota tidak sengaja menyenggol pundi-pundi emas. Salah seorang warga melihat kejadian itu dan ia melaporkan kepada pemerintah kerajaan. Laporan tersebut terdengar oleh Ratu Sima. Ia langsung memerintahkan kepada hakim untuk membunuh anaknya sendiri. Ratu Sima menganggap itu merupakan tindakan kejahatan pencurian. Beberapa patih kerajaan tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh Ratu Sima. Mereka mengajukan pembelaan untuk putera mahkota kepada Ratu Sima. Mereka meminta agar putera mahkota tidak dibunuh melainkan hanya dipotong kakinya saja. Pembelaan patih kerajaan disetujui oleh Ratu Sima. Oleh karena itu, untuk menebus kesalahannya kaki putera mahkota pun dipotong.
Raja Tache pun terobati rasa penasarannya, karena memang rakyat Holing memang rakyat yang jujur dan Raja Sima raja yang adil tidak membeda-bedakan rakyatnya.
Salah satu peninggalan kerajaan kalingga / holing adalah prasasti tukmas. Prasasti ini di temukan di Desa Dakwu tepatnya di daerah Grobogan Purwodadi di Lereng gunung merbabu di jawa tengah. Prasasti ini bertuliskan huruf pallawa berbahasa sansekerta yang menceritakan tentang mata air yang bersih dan jernih. Selain itu, prasasti ini juga memiliki gambar- gambar seperti kendi, trisula, kapak, kelasangka, cakra, dan bunga teratai yang merupakan lambing keeratan hubungan manusia dengan para dewa.

SUMBER :
Poesponegoro,Djoened,Marwati dan Notosusanto,Nugroho. 1992,Sejarah Nasional Indonesia II, Jakarta : Balai Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar