Rabu, 09 Oktober 2013

ASAL USUL KOTA BATAVIA


MUHAMMAD FIKRI MUZAKI / SI 3 / B

Asal mula kota Batavia berawal dari sebuah pelabuhan kecil yang terletak di muara sungai Ciliwung, di sebalah barat pulau Jawa. Dulu namanya adalah Sunda Kelapa, kemudian berganti dengan Batavia seiring dengan dikuasainya Sunda Kelapa oleh Belanda. Pemimpin belanda yang diarmadai oleh Cornelis De Houtman tiba di Sunda Kelapa pada tanggal 13 november 1596. Penduduk yang tinggal adalah orang sunda yang jumlahnya beberapa ribu, serta pedagang cina yang mendirikan pabrik arak.
 Jakarta atau Sunda Kelapa saat itu merupakan vasel banten yang pada waktu itu adalah kota pelabuhan utama perdagangan lada. Belanda adalah bangsa Eropa yang pertama tiba di Sunda Kelapa. Walaupun portugis belum pernah sampai ke Sunda Kelapa, tetapi Syahbandar Sunda Kelapa dapat berbicara dalam bahasa Portugis. Ini membuktikan bahwasanya bahasa Portugis adalah bahasa utama yang digunakan dalam perdagangan internasional di Asia.
Sejak tahun 1596-1610 kapal-kapal Belanda datang dan pergi berlabuh di Sunda Kelapa untuk mengisi persedian mereka. Baik makanan, ataupun rempah-rempah yang menjadi incaran utama mereka dalam mengarungi samudera untuk mendapatkan sumber utamanya. Belanda yang pandai melunakkkan hati para bangsawan, orang terpandang, maupun para raja sekalipun, bisa membuat suatu perjanjian dengan penguasa kota saat itu yaitu Pangeran Wijayakrama dengan VOC yang diwakili Jacques I'Hermitte yang berisi bahwa, Pangeran Wijayakrama mengizinkan Belanda mendirikan rumah batu yang dikelilingi dinding didaerah pemukiman orang-orang cina.
Tahun-tahun awal setelah penandatangan, berlalu dengan perdamaian. Perdamaian tersebut tidak berlangsungan lama. Ini di sebabkan oleh kedatangan kongsi dagang inggris EIC yang juga melakukan perjanjian dengan penguasa kota saat itu. Melihat hal tersebut, Jan Pieterszoon Coen selaku orang kedua yang mengendalikan VOC di Asia membuat supremasi seluruh kota. Ia ingin menjadikan Sunda Kelapa sebagai tempat bertemunya kapal-kapal Belanda, pelabuhan utama untuk penyimpanan barang dan pusat kegiatan VOC di Hindia Timur.
Batavia pun berkembang menjadi kota pusat perdagangan internasional di Asia. Persaingan VOC dengan EIC didalam perdagangan membuktikan bahwa Indonesia memiliki hasil rempah-rempah dan sebagai jalur perdagangan internasioanl. Setelah voc didirikan 1602, belanda secara perlahan, mulai membuat pemukiman untuk para pedagang-pedagang yang berasal dari Belanda. Pemukiman-pemukiman ini pun mendapat serangan dari beberapa kelompok yang menentang VOC pada tanggal 23 desember 1618.
Kebanyakan yang pendatang yang datang ke Batavia adalah pedagang dan semua pemukiman-pemukiman Belanda di Asia adalah para pedagang. Mereka mendapatkan kewenangan berdagang dari Heeren XVII adalah suatu badan umum didalam VOC yang mengurus kebijakan, memutuskan berapa kapal yang berlayar ke Asia, jumlah kapal yang harus dibangun ataupun yang lainya.
Hereen XVII ditentekuan dalam rapat dua tahun sekali di Belanda dan mengikat semua perwakilan mereka di Asia. Heeren XVII ini dibuat supaya adanya keterikatan dan pelaporan kepada pemerintahan pusat dari gubernur Hindia Belanda yang berada di Asia. Yang isinya antara lain mencantumkan semua perjanjian dan peraturan-peraturan yang telah dibuat, dan maklumat-maklumat yang berlaku di tingkat local.
Karena letak yang jauh dari Negara induk atau direktur VOC yang berada di Belanda, yang memakan waktu lebih dari 30 bulan, maka para gubernur dan koleganya memiliki kekuasaan yang hampir absolute terhadap penduduk yang bermukim di pemukiman Belanda.
Pada mukiman awal yang didirikan Belanda di Batavia, para pegawai yang paling senior didatangkan dari Belanda untuk menjalankan urusan-urusan perdagangan VOC.Tetapi selanjutnya mereka dipilih dari para pedagang yang telah memiliki pengalaman selama bertahun-tahun di Asia yang di promosikan secara local. Walaupun demikian, promosi semacam itu harus mendapatkan persetujuan dari para direktur yang berada di Belanda.
Dibawah para pedagang senior VOC terdapat para pedagang yang dibagidalam tiga tingkatan:
1.      Pedagang senior
2.      Pedagang menengah dan
3.      Pedangan yunior.

Sebuah pos dagang di pimpin oleh pedagang senior atau gubernur,ini tergantung dari seberapa besar dan seberapa penting pos itu untuk keseluruhan kegiatan VOC di Asia. Gubernur disebut anggota dewan luarbiasa untuk Hindia Timur. Semua pegawai VOC di Asia berada di bawah pemerintah dari Batavia. Nama pengganti Jacatra yang telah di hancurkan oleh Jan Piterszoon Coen.
Batavia merupakan pusat tempat semua peraturan dan kebijakan yang berlaku terhadap semua wilayah Voc di Asia ditetapkan. Batavia merupakan tempat tujuan bagi para pegawai yang ingin mendapatkan pemindahan tugas dan promosi. Semua lembaga penting VOC di Asia ditempatkan di Batavia, yaitu Dewan Pemerintahan Asia, Pengandilan Tinggi, Kantor Kepala Pembukuan dan Undang-Undang.
Jika kita melihat susunan pegawai VOC di Asia, kedudukan yang terendah adalah juru tulis dan pegawai biasa. Pada tahun-tahun awal berdirinya Batavia, para juru tulis dan pegawai ditempatkan di kastil yang menggantikan rumah-rumah Belanda yang lama. Mereka adalah para bujangan yang menjadi pemukim pertama. Hari-hari mereka berlalu secara panjang dan melelahkan, tanpa mempedulikan cuaca, makanan ataupun pakaian dari bahan wol berat yang mereka pakai. Secara teoritis pegawai VOC yang rajin dan cerdas dapat naik pangkat dalam hirarki kepegawaian VOC menjadi asisten, akuntan, pedagang yunior hingga menjadi pedagang.
Ia bisa juga diangkat menjadi administrator disalah satu gudang milik VOC, atau dikirim menjadi salah satu kepala di suatu kantor dagang. Kemudian ia dapat di promosikan menjadi gubernur di salahsatu koloni VOC yang terpenting seperti di Ambon atau Malaka. Dengan kondisi yang baik dan keberuntungan yang baik pula, mereka bisa dikirim kembali ke Batavia menjadi anggota dewan atau bahkan menjadi seoranggubernur jenderal.
Pada kenyataanya hal itu terjadi pada beberapa orang saja. Gubernur jenderal Hendrik Zwaardecroon, Jacob Mossel, Johannes Thedens, Abraham Patras, dan Reynier de Klerk di abad ke-18, memulai karir mereka sebagai anak buah kapal atau prajurit. Ketika sampai di Batavia mereka berganti pekerjaan menjadi pegawai sipil VOC. Gubernur Jenderal Antonio Van Diemen juga menempuh karir ini pada paruh abad ke-17. Sangat sedikit yang berhasil dalam menempuh karir, banyak diantara yang meninggal dalam beberapa tahun setelah meninggalkan Belanda. Selain itu adanya patron dan koneksi yang memainkan peran penting dalam keberhasilan karir seseorang. Sebagai contohnya, Mattheu de Haan yang menjadi Gubernur Jenderal pad 1725,membutuhkan 24 tahun untuk menaiki jenjang dari asisten menjadi pedagang senior, dan secara keseluruhan ia memerlukan waktu 53 tahun untuk menjadi Gubernur Jenderal. Sebagi perbandingan, Gustav Wilhem van Imhoff, meniti jenjang dari pedagang muda hingga pedagang senior dalam waktu 4 tahun, dan menjadi Gubernur Jenderal dalam waktu 15 tahun. Promise dapat berlangsung secar cepat karena ia memiliki koneksi yang kuat dengan para direktur VOC di Amsterdam.
Agama seseorang juga dapat mempengaruhi karirnya. Para pegawai sipil diharuskan beragama agama Kristen Reformasi Belanda. Meski pada abad ke-17 seorang seperti Joan Maetsuyker, yang digunjingkan sebagai menganut agama Katolik Roma, dapat mencapai kedudukan sebagai Gubernur Jenderal. Tidak sampai pad abad ke-18 seorang gubernur jenderal dapat secara terbuka menganut agama protestan.
Sepanjang periode VOC, meskipun para pedagang mendominasi kehidupan colonial di Asia, dan menentukan standard social bagi semua pegawai VOC, mereka hanya membentuk sebahagian saja dari keseluruhan populasi Batavia dan koloni-koloni Belanda lainya.Kebanyakan orang Eropa di koloni-koloni Belanda di Asia bekerja sebagai prajurit dalam kemiliteran VOC.  Jika kita mempelajari angka-angka yang diberikan C.R Boxer 1622, maka akan terlihat bahwa tidak semua prajurit adalah orang Belanda. Kekuatan garnisium Belanda saat itu143 orang dan setengahnya, 77 orang, adalah orang Jeraman, Prancis, Skotlandia, Inggris, Denmark, Fleming, dan Wallons. Johann Gottlieb Worms mengatakan bahwa pada 1710 hanya ada sepuluh orang Belanda yang menjadi pasukan milisi kota Batavia. Dengan demikian sudah sangat jelas, bukan kebudayaan Belanda yang menyebar di kalangan penduduk local. Fakta ini menjelaskan mengapa bahsa Belanda tidak digunakan sebagai bahasa pengantar dikalangan penduduk ( non-Eropa ) Batavia dan koloni Belanda lainya.
Eropa pada abad ke-17 merupakan wilayah pertarungan politik dan agama. Disejarah Amerika kita juga mempelajari bahwa, orang-orang yang pindah dari daratan eropa, terutama Inggris dan Prancis bukan hanya disebabkan oleh factor ekonomi, juga adanya kekuasaan kaum elit yang menguasai gereja. Sehingga agama tidak mampu lagi untuk mengontrol kehidupan masyarakat, yang akhirnya banyak diantara orang-orang tersebut menandatangi kontrak kerja bersama dengan promotor atau pergi sendiri dengan kemampuan financial yang mereka miliki. Ini analog dengan apa yang terjadi dengan tentara VOC. Kebanyakan diantara mereka adalah orang miskin dan tersingkir, yang lebih memilih menjadi tentara VOC dengan kontrak beberapa tahun ketimbang hidup dengan kemiskinan di negaranya sendiri. Banyak diantara prajurit itu yang meninggalkan Eropa dalam keadaan tidak sehat.
Pada abad ke-17 perjalan ke Asia memakan waktu selama sepuluh bulan. Kapal yang sempit dan kualitas makanan yang buruk membuat tingkat kesehatan para prajurit tersebut kian merosot. Gambaran dari hal demikian ditulis oleh Nicolaus de Graff yang sepanjang hidupnya telah melakukan lima kali perjalanan ke Indonesia. Sebagai seorang dokter dan ahli bedah,ia melaporkan bahwa penumpang dan awak kapal terserang demam ketika kapal mendekati garis khatulistiwa. Setelah berada diatas kapal selama delapan bulan empat hari, De Graff pertama kali melihat Batavia pad 10 September 1640. Dalam 300 orang yang berangkat dari Belanda, 80 orang diantaranya meninggal dalam perjalanan. "seolah-olah wabah berada diatas kapal", demikian De Graff menceritkan.
Diantara awak kapal yang selamat, banyak yang meninggal setelah menjejakan kaki selama beberapa bulan didarat. Pada waktu itu orang secara umum memandang prajurit VOC berperilaku buruk, tidak berpendidikan, dan miskin. Ini dimulai dari keluhan J.P Coen. Dalam suratnya kepada para direktur di Belanda pada 1628, ia mengeluhkan kemalsan, kebodohan, dan ketidak mampuan bahasa para prajurit VOC. Kita hanya memiliki sedikit gambaran tentang kehidupan prajurit-prajurit biasa. Gambaran tersebut didapat dari kasus-kasus criminal yang disidangkan di pangadilan tinggi yang didirikan di Batavia tahun 1617. Kasus-kasus criminal yang umum adalah ketidakpatuhan, pemfitnahaan, pertengkaran, dan mabuk-mabukan didepan umum. Berbagai hukuman yang dijatuhkan adalah dicap dengan logam panas, kerja kasar dengan dirantai, dan eksekusi mati. Diperlukan waktu lebih dari seabad sebelum keluhan para prajurit diperhatilkan, dan itupun hanya keluhan yang muncul dalam surat permohonan pengunduran diri atau penugasan ulang.
Catatan mengenai prajurit juga terekam di dalam buku pembaptisan gereja Batavia, keanggotan gereja, dan pernikahan. Catatan tentang pernikahan yang direproduksi dalam buku sejarah yang berilustrasai tentang VOC karya E.C Godee Molsbergen yang bertanggal 10 Februari 1630. Pada hari tersebut, seorang prajuritdari Gouda yang bernama Charles Jacobsz menikah dengan Wybrecht Jansd dari Amsterdam, janda dari Jan Ijsbrantsz. Catatan lain pada 1622 adalah pernikahan antara Abraham Strycker, serorang perwira berpangkat kapten, dengan Aeltjen Lubberts dari Amsterdam yang sampai ke Batavia dengan menaiki kapal Heusden.
Dari pernikah diatas, bukanlah hal yang ternasuk lazim menikahi perempuan yang bermigrasi Belanda ke Batavia pada abad ke -17. Hanya sedikti perempuan Belanda yang bermigrasi sebelum terbuknaya Terusan Suez pad 1869. Dan kebanyakan prajurit biasa menjadikan perempuan yang ada di Batavia sebagai pasangan hidupnya.

 3.1 Kesimpulan
      Disini kita bisa memahami bahwa asal mula Kota Jakarta sekarang ini berawal dari pemukiman awal di sebalah utara pantai Jakarta. Nama Jakarta pertama kalinya adalah Sunda Kelapa.setelah kedatangan Belanda yang di pimpin oleh Cornelis de Houtman pada 13 november 1596. Yang awalnya hanya berdagang, dan kemudian timbullah perasaan ingin menguasai semua perdagangan dengan cara memonopoli dan ingin menjajah nusantara. VOC lah cikal-bakal pemertintahan Belanda menanamkan kekuasaannya di Indoensia hingga beratus tahun lamanya. Mulai dari pemukiman awal hingga terbentuknya koloni di Batavia.


 DAFTAR PUSTAKA

Bruggencate, K. ten
      1963   Nederlands-Engels woordenbook ( Kamus Belanda-Inggris). Ed. Ke-6 Groningen: J.B. Wolters
Buur, Dorothee
      1973-1290 Persoonlijke Documenten Nederlands-Indie/Indonesie(Dokumen Pribadai Hindia-Belanda/Indonesia).Leiden: Koninklijk Instituut voor Taal-,Land-en Volkenkunde.
Coolhass, W.Ph
      1960   A Critical Survey of Studies in Dutch Colonial History. Koninklijk Instituut voor Taal-,Land- enVolkenkunde Bilbiographic Series, no. 4.'s-Gravenhage:M. Nijhoff
Encyclopedaedie van Nederlandsch-Indie
      Tt   (Ensiklopedi Belanda-Hindia). 's-Gravenhage, Leiden: M. Nijhoff dan E.J Brill.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar