Kamis, 10 Oktober 2013

AFRIKA

SRI OKTAVIANI/PIS
            Sema abad ke-18, benua Afrika berada dalam situasi yang relative damai. Di sebelah utara kekaisaran Ottoman yang mengiasai Mesir terus mengalami kemerosotan. Penduduk Asante di pantai barat semakin mekmur berkat perdagangan budak. Di sebelah tenggara,perlahan orang Portugis mendirikan sebuah koloni di Mozambik. Daerah di pantai timur (kini Kenya) diperintah dari Oman, sebuah kerajaan di utara Laut Arab. Di ujung selatan, Tanjung Harapan, para pemukim Belanda mulai menjelajahi daerah pedalaman.
NEGARA-NEGARA BARU AFRIKA
            Selam abad ke-18, rata-rata 35.000 orang budak dikirim dari Afrika barat ke Amerika setiap tahunnya. Namun pada akhir abad itu, orang Inggris memiliki pemikiran lain. Pada tahun 1787, mereka mendirikan Sierra Leone sebagai tempat penampungan bagi para budak yang dibebaskan dari AS. Kebanyakan Negara Eropa menghentikan perdagangan budak pada awal abad ke-19,sekalipun Portugis melanjutkannya hingga tahun 1882.
            Suku Zulu di Afrika Selatan, yang dipimpin oleh raja Shaka, terus berperang dengan tetangganya. Pertumpahan darah ini begitu besar sehingga periode 1818 hingga 1828 dikenal sebagai Mfecane, atau periode bermasalah. Terjadi perpindahan penduduk dari Sudan,suku Tutsi pindah ke Rwanda, dan suku Masai ke Kenya dari utara.
NEGARA MUSLIM AFRIKA
            Di ujung selatan sahara, kebangkitan Islam kembali terbentuk. Banyak orang muslim mengaharapkan kedatangan seorang Mahdi atau juru selamat. Kekhalifahan Afrika, yang tergerak dengan datangnya mahdi ini, mendirikan sejumlah Negara baru yang terorganisasi dengan baik seperti Sokoto, Mossi, Tukulor, dan Samori di pedalaman Afrika barat. Di Mesir Memet Ali Pasha mengambil alih kekusaan dari tangan kaum Mamluk pada tahun 1811. Ia memodernisasi negeri itu dan menyerbu Sudan pada 1820-an.


Daftar Pustaka:
ENSIKLOPEDIA SEJARAH DAN BUDAYA,2009, sejarah dunia 4, penerbit Lentera Abadi,Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar