Jumat, 26 Juli 2013

PANGERAN DIPONEGORO

Oleh: Slamet Kabul Budiarto /B/S13
            Ingris mengembalikan Indonesia kepada belanda tahun 1816. Dengan kondisi rakyat sudah sangat memprihatinkan. Penderitaan dan kesengsaraan mereka kian menjadi-jadi karena adanya pajak dan monopoli yang sebelumnya diterapkan penjajah inggris. Kembalinya belanda semakin memperparah kondisi rakyat dengan tetap diberlakukannya kerja paksa (kerja rodi) guna kepentingan kolonial belanda.
            Belanda juga menularkan kebudayaan buruk mereka ke wilayah jajahannya, termasuk di dalam lingkungan keratin, misalnya kebiasaan meminum-minuman keras dalam perhelatan di dalam keratin. Ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran islam. Berbagai ketimpangan, kesewenang-wenangan dan penindasan belanda atas rakyat sangat membuat geram seorang lelaki bangsawan Yogyakarta yang berdiam di daerah tegalrejo,Yogyakarta,untuk bertindak. Lelaki itu adalah pangeran diponegoro namanya. Nam kecilnya adalah Raden Mas Ontowiryo. Dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 11 november 1785. Ia putera Sultan Humengku Buwono III (Sultan Yogyakarta). Namun karena ibunya bukan berasal dari keturunan bangsawan yang tinggi martabatnya, ia tidak akan menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Sultan. Ia tidak sedih dengan kennyataan itu karena ia pun tidak menginginkan kedudukan,jabatan serta juga kekayaan. Keinginannyahanya satu, menegakkan syariat agama islam. Pangeran diponegoro mendapatkan didikan dari Ratu Ageng,janda Sultan Humengku Buwono I, yang terkenal amat soleh. Diponegoro tumbuh menjadi pemuda muslim yang taat kepada agamanya dan mempunyai kepekaan yang tinggi atas nasib rakyatnya.
            Sejak ayahnya pangeran diponegoro yakni Sultan Humengku Buwono III memegang tampuk pemerintahan, ia sangat prihatin dan mali terhadap terjadinya konflik suksesi antara kakenya yakni Sultan Humengku Buwono II yang taat kepada agama dan adat-istiadat keratin, melawan ayahnya yang masih berstatus sebagai Putra Mahkota yang berorientasi sekuler, cenderung pada budaya barat. Sejak peristiwa itu, ia meninggalkan aktivitas di keraton, hanya melakukan audiensi kepada ayahnya pada hari-hari besar, seperti Garebeg Maulud dan Hari Raya. Ia pun akhirnya bermukim di tegalrejo. Ia menila kakeknya sebagai seorang yang suka melanggar hukum dan tidak menepati janji, seperti membatalkan pencalonan ayahnya sebagai Putra Mahkota. Ayahnya pun dinilai sebagai anak yang durhaka kepada orang tua, lemah terhadap tekanan barat, serta bersikap kebarat-baratan.
            Ia kerap bertafakur di tempat-tempat sunyi seperti gua-gua,mengikuti jejak Muhammad sebelum menjadi nabi untuk mencari ilham guna menegakkan syariat islam. Ia tidak bisa membenarkan penjajahan manusia atas manusia, terlebih-lebih orang belanda yang mayoritas tidak beragama islam itu menjajah rakyatnya yang mayoritas beragama islam. Pangeran diponegoro pun dikenal sebagai sosok kharismatik dan tidak sedikit pula yang menganggapnya keramat.
            Pengaruh diponegoro makin meluas di kalangan rakyat dan juga di kalangan bangsawan keraton Yogyakarta. Patih keratin Yogyakarta, Danurejo IV merasa cemas mendengar kennyataan bahwa diponegoro mendapat banyak dukungan dari rakyat Yogyakarta. Kala itu Sultan Humengku Buwono V yang masih berusia sangat muda,patih Danurejo pun sebagai pelaksana pemerintah keratin segera mengambil tindakan. Ia tidak bias menerima jika nama diponegoro semakin hari semakin harum di kalangan rakyat dan bangsawan Yogyakarta. Ia takut jika kedudukannya akan tersingkir karena diponegoro. Patih Danurejo IV pun lalu berusaha mencari cara untuk menyingkirkan diponegoro.
            Di samping itu,pemerintah kolonial belanda pun mengetahui bahwa diponegoro merupakan ancaman serius bagi mereka. Pemerintah kolonial belanda pun berniat membangun jalan raya dari Yogyakarta menuju magelang dengan melewati daerah di mana diponegoro bermukim,yakni di tegalrejo. Tidak hanya itu,pembuatan jalan itu pun akan menerjang makam keramat di tegalrejo yang merupakan makam leluhur diponegoro. Tentu saja diponegoro menolak mentah-mentah rencana belanda tersebut. Penolakan diponegoro itulah yang sesungguhnya diinginkan belanda. Mereka dapat menyingkirkan diponegoro dengan alasan berani menentang rencana pemerintah kolonial belanda.
            Pada suatu hari,patih Danurejo IV dan kompeni belanda memerintah memasang pancang sebagai tanda akan di buatnya jalan baru, yang sengaja melintasi tanah milik diponegoro di Tegalrejo. Diponegoro pun memerintahkan pengikutnya mencabuti pancang-pancang tersebut. Mendapat laporan bahwa pancang-pancang itu dicabuti oleh pengikut diponegoro,patih Danurejo IV memerintahkan kembali untuk memasang pancang-pancang dengan dikawal pasukan Macanan,pasukan pengawal kepatihan. Pengikut diponegoro pun tetap mencabuti pancang-pancang tersebut untuk kedua kalinya. Oleh pengikut diponegoro pancang-pancang tersebut diganti dengan tombak-tombak mereka.
            Mengetahui penolakan diponegoro, pangeran mangkubumi pun mencoba menemui keponakannya itu. Namun setelah di jelaskan oleh diponegoro,pangeran mangkubumi pun sangat membenarkan sikap keponakannya tersebut dan pangeran mangkubumi pun langsung memihak kepada keponakannya serta berniat tidak akan kembali ke keratin Yogyakarta. Belanda pun akhirnya bersekongkol dengan patih Danurejo IV untuk menyingkirkan diponegoro. Dengan segera pasukan kompeni pun bergegas menuju Tegalrejo pada juli 1825,namun diponegoro dan mangkubumi berhasil melarikan diri. Belanda pun kesal Karen gagal menangkap diponegoro,pasukan belanda lalu membakar rumah diponegoro. Kejadian tersebut memicu kemarahan rakyat,.ereka pun lantas mendatangi pangeran diponegoro ditempat persembunyiannya dan menyatakan diri siap mendukung pangeran diponegoro untuk memerangi kompeni belanda. Jumlah pasukan diponegoro pun membengkak amat banyak dari berbagai penjuru Yogyakarta dengan menyiapkan segala perlengkapan perang mulai dari tombak, keris, pedang, parang, kapak, dan bahkan bamboo runcing. Pasukan diponegoro pun mengangkat diponegoro sebagai Kepala Negara serta Kepala Agama dengan memberikan gelar Sultan Abdul Hamid Herucokro Amirulmukminin Sayyidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawi.
            Para bangsawan keratin Yogyakarta dan para kaum alim ulama pun turut bergabung dengan pasukan diponegoro,seperti salah seorang ulama yaitu Kyai Mojo dan dari para bangsawan yang dikenal sangat hebat dalam strategi perang yaitu Basah Sentot Prawiradirja. Selain itu di kubu dipenogoro masih terdapat pangeran mangkubumi yang bertindak sebagai penasehat, pangeran Ngabehi Jyakusuma sebagai panglima perang, Nyi Ageng Serang dan juga pangeran Pak-Pak menantu dari Nyi Ageng Serang. Markas pasukan diponegoro semula berada di deksa,sebelah barata Yogyakarta. Sedangkan pusat pemerintahan mereka terdapat di Pleret,selatan Yogyakarta. Pleret kemudian berhasil direbut oleh pasukan belanda dengan melalui peperangan dahsyat yang memakan banyak korban dari pihak belanda. Markas besar pasukan diponegoro pun selanjutnya di gua selarong,sebelah selatan Yogyakarta.
            Selama menjajah, belanda baru merasakan amat beratnyamenghadapi perlawanan rakyat jajahannya. Hampir di setiap medan pertempuran, pasukan kompeni belanda selalu menemui kekalahan. Di daerah-daerah Yogyakarta, Surakarta, kedu, banyumas, pekalongan, dan daerah-daerah lainnya, pasukan diponegoro berhasil menghancurkan pasukan kompeni belanda. Sangat banyak pasukan belanda yang meregang nyawa dan sangat banyak pula biaya yang harus dikeluarkan untuk memadamkan perlawanan diponegoro. Kekuatan pasukan diponegoro tidak semakin berkurang, namun malah semakin bertambah setiap saatnya. Disaat yang bersamaan,kompeni belanda pun sedang menghadapi perlawanan Imam Bonjol di daerah Minangkabau,Sumatra barat. Belanda pun menerapkan siasat gencatan senjata dengan pejuang-pejuang minangkabau dan menarik sebagian besar anggota pasukannya ke tanah jawa dan juga anggota pasukan belanda yang berada di daerah lain, untuk menghadapi perlawanan di ponegoro. Meskipun demikian,pasukan belanda terus mendapatkan kekalahan dari perlawanan diponegoro,mereka pun terpaksa mendatangkan anggota pasukan langsung dari negeri leluhurnya yakni perwira-perwira belanda yang telah berpengalaman di medan-medan pertempuran di datangkan ke tanah jawa nutuk mengalahkan perlawanan sengit diponegoro.
            Berbagai siasat perang telah dilakukan, namun tetap saja belanda pasukan belanda mengalami kegagalan dan kekalahan. Hingga akhirnya belanda menjalankan siasat perang yakni siasat benteng. Siasat ini dijalankan dengan mendirikan benteng-benteng yang mengelilingi daerah perlawanan diponegoro. Dengan siasat benteng,pergerakan pasukan diponegoro menjadi menyempit. Beberapa wilayah pasukan diponegoro tidak bisa lagi berhubungan dengan markas besar diponegoro,serta beberapa bupati yang awalnya mendukung diponegoro menjadi berpihak kepada belanda karena di iming-imingi janji yang menyenangkan mereka. Pembelotan yang sangat memukul kekuatan diponegoro adalah ketika senopati perang Basah Sentot Prawiradirja menyeberang ke pihak belanda.
            Perlahan namun pasti pasukan diponegoro terkurung dan terus terpepet. Kyai Mojo yang tetap setia dengan pangeran diponegoro akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara. Dua pilar pendukung kekuatan diponegoro telah hilang. Namun taka da kata menyerah dalam benak pangeran diponegoro. Perjuangan yang dilakukannya adalah perjuangan suci untuk membela agama. Hidup atau mati dalam pertempuran membela agama adalah kemenangan. Dan hal itulah yang menyebabkan peperangan terus berlangsung dengan dahsyat sekalipun belanda terus menggiatkan strategi perang siasat benteng. Belanda pun menyadari,tidak mungkin dapat mengalahkan pangeran diponegoro dalam waktu sebentar. Masih membutuhkan waktu yang amat panjang dan lama. Biaya yang telah dikeluarkan belanda dalam menghadapi perlawanan pangeran diponegoro telah menguras habis persediaan uang mereka,belum lagi perlawanan yang mulai muncul di daerah-daerah lain di Indonesia. Hingga pemerintah negeri belanda mencari pinjaman ke Negara-negara lain untuk membiayai perang Hindia Belanda di Indonesia.
            Letnan Gubernur Jenderal H.M. De Kock menggagas rencana untuk segera menghentikan perang yang telah berlangsung lima tahun itu. Belanda pun menawarkan strategi perang pamungkas mereka yakni berunding dengan pangeran diponegoro untuk berdamai. Jika dalam perundingan nanti pangeran diponegoro tidak setuju dengan syarat-syarat perdamaian yang diajukan oleh belanda,maka pengeran diponegoro boleh kembali ke pasukannya. Secara kesatria pangeran diponegoro memenuhi ajakan perundingan perdamaian tersebut. Perundingan tersebut berlangsung di magelang pada tangga 28 maret 1830,namun perundingan tersebut hanyalah sebuah siasat untuk menangkap pangeran diponegoro. Kedatangan pangeran diponegoro langsung digunakan pasukan belanda untuk menangkap dan menawannya. Mereka lantas mengasingkan pangeran diponegoro ke Manado dan kemudian mengasingkannya di dalam Benteng Rotterdam di Makassar.
            Pangeran diponegoro yang gagah berani dan tidak pernah terkalahkan serta tidak pernah menyerah itu akhirnya wafat di tanah pengasingannya di Makassar, 8 Januari 1855, setelah 25 tahun ia di asingkan. Pemerintah Indonesia mengangkat Pangeran Diponegoro sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1973.
Daftar Pustaka
·         Komandoko Gamal, 2007, Kisah 124 Pahlawan dan Pejuang Nusantara, Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
·         Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 2008, Sejarah Nasional Indonesia IV, Jakarta: Balai Pustaka.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar