Rabu, 24 Juli 2013

KERAJAAN ACEH


DARMAWAN/A/SI3
1.      Struktur pemerintahaan
Wilayah inti kerajaan Aceh (Aceh Raya ) dibagi dalam tiga wilayah segi dan wilayah pusat kerajaan. Tiap segi terdiri dari sejumlah mukim. Berdasarkan jumlah mukim yang disatukan menjadi wilayah segi, maka ketiga segi dikerajaan Aceh disebut sagi XXV mukim, segi XXII ukim dan segi XXVI mukim.
Sagi XXV mukim meliputi daerah Aceh bagian barat,
sagi XXII mukim berada daerah bagian tengah bagian selatan
sedangkan segi XXVI mukim terlettak didaerah bagiian timur
wilayah pusat berada di daerah bagian tengah sebelah utara sampai ke pantai utara. Tiap-tiap sagi di bagi dalam kesatuan-kesatuan wilayah lebih kecil. Tiap-tiap distrik meliputi beberapa mukim. Sebagai contoh misalanya sagi XXV terdapat distrik IV mukim, distrik VI mukim, distrik IX mukim dan lain-lainyanya.
            Tiap-tiap sagi dikepali oleh kepala sagi atau yang sering disebut Hulubalang, sedang tiap distrik di kepali oleh seorang Hulubalang (Ulebalang). Pada hakekatnya Hulubalang daerah sagi mempunyai kekuasaan otonom wiilayah kekuuasaanya. Raja atau sultan lebih berfungsi sebagai lambing membersatu yang diakui oleh para ulubalang. Kedudukan para pemersatu yang diakui oleh para hulubalang. Kedudukan para hulubalang diwilayah sagi tidak tergantung pada sultan. Jabatan mereka sedemian jauh dapat diwaiskan. Namun hal seperti itu tidak berlaku bagi hulubalang diwilayahh pusat yang lansung dibawah kekuasaan sultan. Hulubalang-hulubalang ini diangakat oleh raja dengan surat ketetapan (sarkata) yang dibubuhi materi kerajaan (Cap halilintar). Para hulubalang biasanya memekai gelar tengku. Kepala-kepala distik sering disebuut datuk.
            Didaerah pantai timur terdapat juga wilayah yang diperintah oleh empat kepala (tahu peuet). Masing-masing kepala tersebut mempunyai wilayah jurisdik sendiri-sendiri. Mereka juga sering disebut hulubalang kecil (uleebalang cut). Gelar yang dipakai oleh kepala-kepala berbeda-beda seperti : keujruen, meuntroe, ci pakeh atau pakeh ben. Di lo' seumawe kepala tersebut diberi gelar mbah raja, sedangkan di Teunom bergelar imeum. Ada juga wilayah yang di perintah oleh lima hulubalang (ulee baling limong) dan masing-masing kepala mempunyai batas wilayah kekuasaan sendiri-sendiri. Di daerah pantai barat kepala disebut rigaih keuci, ssedangkan wilayah yang di perintahkan disebut sagoe.
            Sudah disebut, bahwa tiap-tiap distik dibagi dalam sejumlah mukim-mukim tiap mukim dikepalai oleh seorang imam. Biasanya seorang imam kepala mukim adalah seorang ulama. Setiap mukim terdiri dari beberapa gampong yang masing-masing di kepalai oleh seorang keuci. Gampong terdri dari sejumlah wilayah lebih kecil (wijk) yang mempunyai tempat ibadah sendiri (meunasah) kepala wijk tersebut adalah tengku meunasah. Ada juga yang memnyebut tengku matdrasah, berdasarkan adanya pengajaran agama islam ( madrasah ) diwialyah tersebut beberapa daerah kesatuan beberap gampong di kepalai oleh datu. Sebagai contoh misalnya datu basa yang memerintah daerah yang tepi kanan sungai sama dua beserta beberapa gampong ialah : jeuret, lading, lading kaseh putih, pau dan balai. Ada pun yang memerintah daerah di tepi kiri sungai sama dua adala dato mauda nya radin. Disamping itu beberapa gampong didekatnya termasuk dalam kekuasaanya, ialah gampong-gampong sus ulu, paja, alue sialang ulu, gampang, tangga pantan luat, dalam, gunung ketek dan kuta baruh
            Keuci dalam pemerintahaan gampong dibantu oleh pejabat-pejabat keagamaan. Pada dasarnya keuci hanya mengurusi soal-soal keduniawian sedang urusan keagamaan diurusi oleh para tengku maunasah yang ada dalam gompang. Kecuali itu keuci jugak di bantu oleh orang-orang tua (ureuning tuha) gampong dalam memecahkan kesulitan-kesulitan. Dalam memetuskan sesuatu keuci jugak mengadakan bupakat dengan penduduk laki-laki dewasa dalam gampong. Di samping tengku maunasah di dalam gampong jugak terdapat ulama-ulama dan leubi yang ahli dalam hukum islam, demikian pula penjabat-penjabat keagamaan lainnya seperti kali imeum, hatip dan bilal tengku maunasah bertanggung jawab atas terpiliharanya maunasah dalam wilayahnya dan ketertiban penduduk dalam melakukan sembayang harian.
            Biasanya keuci mempunyai satu atau lebih pembantu yang di sebut waki, sedang jabatan khusus sebagai sekataris desa tidak ada. Gampong-gampong yang letaknya dekat istana raja di wajibkan untuk menyediakan tenaga guna secara bergilir menjaga istana dalam membersihkanya demikianlah pula di wajibkan membersihkan sumbangan-sumbangan kepada istana pada waktu pada penerimaan tamu pembesar. Di daerah perkebunan lada dan daerah-daerah dekat hutan bertindak sebagai kepalanya adalah para peutuha.
2.      Kedudukan raja dan para pejabat kerajaan
diatas telah dikemukakan pembagian wilayah kerajaan dan pejabat-pejabat kepala pemerintahan dari tingkat sagi sampai tingkat wilayah terbawa. Perlu kiranya ditinjau juga wilayah dipusat kota kerajaan. Daerah pusat kerajaan ini meliputi:
a.       Istana sultan, peukan aceh dan gampong-gampong merdowati, jawa, pandei, kedah
b.      Mukim-mukim long bata, pager ayer dan lamsayun.
c.       Distik lll mukim dari sagi XXVI mukim.
d.      Masjid raya dan sekitarnya.
Dari wilayah tersebut hanya mesjid raya dan sekitarnya lah yang tidak di perintah oleh sultan, tetapi pemerintahannya diserahkan kepada dua orang pejabat keagamaan. Ialah hakim tertinggi kerajaan teuku kadli malik'ul adil dan panglma masjid raya. Karena wilayah-wilayah tersebut berada dalam pusat kerajaan maka kegiatan wilayah banyak dihubungkan dengan keperluan istana. Sudah disinggung dimuka, bahwa gompng-gompang diwilayah tersebut diberi beban pula untuk memelihara istana. Disamping itu masih terdapat juga tanah-tanah enclave milik raja di daerah-daerah. Pengurusan tanah-tanah enclave diserah kan kepada panglule pauraru (bendahara).
            Didalam pemerintahan, sultan dibantu oleh seorang mangku bumi. Dalam masa perang aceh jabatan mangku bumi di pegang oleh seorang arab bernama habib Abdurrahman. Dibawah mangku bumi terdapat empat orang pejabat tinggi yang disebut menteri hari-hari. Fungsi menteri hari-hari terutama adalah sebagai penasehat raja. Pangkat para mentri hari-hari lebih rendah dari paling lima sagi. Untuk mengurusi pemasuak dan pengeluaran keuangan istana, raja menyerahkan kepada syahbandar, yang sebenarnya mempunyai tugas pokok soal Bandar. Ada kala syahbandar juga diserahi tugas untuk mengurusi usaha dagang milik sultan perseorangan. Di samping itu masih terdapat pejabat-pejabat yang ditugaskan untuk mengawasi lalu lintas di muara sungai, ialah kepala krueng yang yang dibantu oleh paman k, rueng sebagai penarik barang cukai ekspor infor adalah panglima lasot. Didalam masa damai ada kalanya panglima perangan juga di tugaskan sebagai penarik pajak. Pejabat yang berfungsi sebagai penulis dan mengurusi pegang-buku dan surat-menyurat adalah krani dan merupakan pembantu dari kepala.
            Dalam abad ke 17 dan 18 terdapat jabatan-jabatan yang lebih lengkap dalam istana sultan. Antara lain dapat di sebut hulubalang rama setia sebagai kepala pengawal pribadi raja, raja udah na liala ialah kepala pembendaharaan isatana dan perpajakan, kerkun katif al muluk sebagai seketaris kerajaan. Selain itu dalam kerajaan masih juga terdapat pejabat-pejabat tinggi lainnya seperti sri maharaja laila sebagai kepala kepolisian, urusan tannah wakab, di samping penjabat-penjabat tinggi kepala daerah seperti panglima sagi dan hulu baling. Jabatan-jabatan tinggi tersebut dalam abad ke 19 tidak seluruhnya terdapat, kerena untuk jabatan yang bersipat warisan tersebut belum tentu ada penggantinya yang menjabatnya. Di antara panglima- panglima sagi, panglima ke xx mukim adalah yang terkemuka. Ia berkedudukan jugak sebagai patih yang memangku pemerintahan sebelum di lantiknya raja baru, setelah raja yang lama meninggal. Para penjabat tinggi kerajaan sering di beri sebuta orang kaya dan besar.
            Dari uraian tersebut di atas Nampak bahwa sultan sebagai penguasa pusat di hormati oleh para panglima sagi namun dilaksanakan pemerintahan daerah para panglima sagi mempunyai kekuasaan besar. Demikian pula para penghulu baling yang mempunyai distik-distik dalam sagi tidak kecil pengaruhnya di wilayahnya mereka masing-masing. Keculi rasa hormat mereka terhadap sultan, hubungan antara hulu balang di daerah dengan sultan di hujudkan sultan  pengiriman sebagian hasil bumi maupun hasil daerah istana.
3.       System penggantian tahta
Pada dasarnya penganti raja yang meninggal adalah putra laki-laki raja yang lahir dari istana pertama. Umumnya yang menganti adalah putra yang sulung, namun apabila hal tersebuttidak mungkin, dapat di ambil putra laki-laki yang pantas, seorang putrid atau keponakan adakalanya ditunjuk sebagai raja. Apabila putra naik tahta masih dibawah umur, pemerintahan semantara juga dapat dipegang oleh ibu dan pamanya, sampai saat anak tersebut sampai dewasa untuk memerintah sendiri. Beberapa fakta menggenai itu dapat dikemukakan sebagai ilustrasi. Waktu sultan Ali Ri'ayat syah meningggal pada tahun 1607 kemanakanya yang bernama aharaja Darma wangsa tuan pangkat sebagai penganti dengan nama sultan iskandar muda. Sultan iskandar muda yang meninggal pada tahun 1636 diganti oleh putra angkatnya. Ialah kemudian yang bernama iskandar thani aluddin manghayat syah. Waktu iskandar thani meninggal pada tahun 1641, karena menunjukan putra sebagai penganti tidak mungkin, mka yang mengantikan sebagai raja bahkan istrinya yang bernama Putri Sari Alam Permaisuri. Setelah menjadi raja ia berganti nama sultan Taul alam safiatuddin syah. Ia adalah putrid adri sultan iskandar muda almarhum. waktu sulatan tajul alam meniggal pada pada tahun 1675, ia diganti oleh oleh seorng wanita lagi yang tidak jelas asalnya. Rja baru ini yang bernama sri sultan nurul alam. Padatahun 1678 dia diganti oleh putrinya yang bernam putri Raja setia. Sultan Aluddin muhamad Syah yang meninggal pada tahun 1795 diganti oleh yang mmasih kecil bernama Husien. Sebelum ia menjadi dewasa, pemerinthaan kerajaan di pegang oleh ibunya dan pamanya.
Bebrapa fakta tersebut diatas menunjukan, bahwa system penggantian raja agak longgor, tidak selalu putra laki-laki, tetapi dapat juga putri, istri dari raja-raja yang meninggal. Dalam pangkatan raja baru, peranan panglima sangat besar, terutama panglima sagi XXII mukim tidak menyetujui dan tidak mengakui raja baru menurut yang di tunjuk dalam sebagai penganti putranya yang abru berumur kira-kira tujuh tahun. Pelantikan raja baru disaksikan para ulama istana dan ulama kerajaan terkemumka, para panglima sagi dan pembesr pembesar kerajaan (orang kaya ) lainya.
4.      Penghasiln kerajaan
Penghasilan kerajaan terutama didapat dari penarikan pajak atau cukai. Penarikan pajak dilakukan oleh para pejabat-pejabat kerajaan urusan pajak. Ada bermacam- macam pajak yang dibebankan pada rakyat, baik bumi putra maupun penduduk asing. Orang-orang yang mempunyai tanah lading dikenakan pajak tanah. Sedangkan untuk barang-barang yang di perjual-belikan dipasar di pungut pajak besar. Daerah dimana terdapat muara sungai, disitu terdapat rumah cukai. Pejabat-pejabat cukai mengawasi keluar masuknya perahu-perahu di muara. Perahu-perahu yang akan dimasuki muara itu diharuskan membayar cukai muara. Selain itu barang-barang dagang yang akan di ekspor. Waktu melalaui muara itu harus di pungut pajak. Dengan tariff menurut macmnya barang dagangan dengan demikan terdapat berbagai macam pajak. Seperti lada, pinang ddan juga pajak hasil hutan. Dalam jual-beli lada keculai ditarik pajak lada, juga dipungut.
            Kepala-kepala daerah kecuali mempunyai penghasilan dari hasil sawah dan kebun-kebun yang dimilikinya, juga mempunyai penghasilan banyak dari penarikan pajak-pajak dan cukai. Seperti banyak penjualan dan alain-lain
Daftar Pustaka
Ø  Aziz, Malihara, Asril, 2006.'Sejarah Indonesia III'. Pekanbaru : Cendikia Insani.
Ø  Parakitri T Simbolun, September 2006. Menjadi Indonesia: Jakarta 10270. Kompas Media Nusantara
Ø  Prof.Dr.M. Habib Mustopo. 2000 .'sejarah' yudistira PT. Ghalia Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar